This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 28 Mei 2014

MENGENAL DRAMA DAN TEATER


1. Pengertian Drama dan Teater
Dalam  Kamus  Umum  Bahasa  Indonesia  atau  KUBI  yang  disusun  oleh W.  J.  S.  Poerwadarminta  (Balai  Pustaka,  1976:258),  istilah  drama  berasal  dari  Eropa  dan diartikan dalam dua pengertian, yakni: a)  Cerita sandiwara yang mengharukan; lakon sedih
b) Merupakan kiasan peristiwa  yang ngeri  atau menyedihkan. (Ingatlah setiap peristiwa  yang  sering dianggap didramatisir  tidak  jarang  karena  situasinya yang menyedihkan).
Seni drama sebagai turunan istilah itu merupakan seni mengenai sandiwara atau  cara menjalankan dan menulis lakon. Jika mengikuti pengertian itu drama dapat disimpulkan  sebagai  cerita  lakon dan  lakon  cerita  yang menggambarkan  suatu peristiwa  yang  menyedihkan  atau  mengerikan.  Kemudian  untuk  memahami lebih  jauh,  drama  bertolak  dari  sebuah  bentuk  cerita  yang  dituliskan  sebelum dilakonkan.  Jadi  ada  drama  yang  disebut  sebagai  naskah  dan  ada  juga  yang dianggap sebagai lakon itu sendiri berdasarkan naskah.
Pengertian  drama  dari  versi  lain  adalah perbuatan  di  atas  panggung  (to  do,  to dran)  dan  bentuknya  (draomai).  Tentu  yang  berbuat  di  atas  panggung  untuk mewujudkan  bentuk  itu  adalah  pemain  drama.  Tuntutan  bagi  seorang  pemain drama  sesuai dengan perkataan William Shakespeare  (pengarang drama klasik Inggris) dengan kalimat: Sesuaikan perbuatan dengan kata, dan kata dengan perbuatan.  Para  pemain  drama  dapat  dianggap  melebihi  seorang  pahlawan karena mewujudkan sebuah cerita lakon di atas panggung.
Seorang Maxim Gorki (pengarang  Rusia)  kelihatan  sinis  kepada  para  pahlawan  dengan  kalimatnya: Memang,  ia seorang pahlawan,  tetapi  ia  tidak dapat bercerita  (Luxemburg dkk,  1986:158).  Dalam  kaitan  drama  sebagai  cerita  lakon  atau  naskah kategorinya masuk dalam sastra drama. Namun dalam kaitannya dengan  lakon cerita dapat menjadi pintu masuk ke dalam teater.
Lalu  bagaimana  dengan  teater?  Awalnya  teater  diartikan  dari  kata  teatron(bahasa  Yunani)  dengan  pemahaman  atas  sebuah  tempat  pertunjukan  yang kadang bisa memuat sekitar 100.000 penonton (N. Riantiarno, 2003:7). Tempat pertunjukan  itu  mungkin  berupa  lapangan  terbuka  (out-door)  atau  stadion. Namun akhirnya dapat mencakup sebuah gedung (in-door) seperti bioskop atau gedung khusus yang dirancang untuk tempat pertunjukan.
2. Drama sebagai Teater
Drama dan teater bisa sulit dibedakan dalam praktik. Namun secara teoritis dan sejarah  keduanya  harus  dibedakan.  Mungkin  drama  dipentaskan  di  sebuah teater. Sehingga teater itu merupakan bagian yang dibutuhkan oleh drama. Lalu  apakah  drama  itu  merupakan  teater  atau  teater  merupakan  drama? Pertanyaan  yang  mungkin  sering  dilontarkan.  Jawabannya  dapat  dihantarkan dengan sederhana dengan menjelaskan drama sebagai teater.
Drama sebagai teater tentu saja maksudnya adalah peristiwa yang mencakup isi  yang  ditampilkan  (dengan  naskah  atau  tanpa  naskah),  pemain  yang  tersedia (aktor/aktris), tempat yang dikondisikan serta dengan dukungan artistik secara fisik  dan  melekat  untuk  kebutuhan  panggung  (gedung  atau  luar  gedung). Dukungan  artistik  itu  berupa  tata  rias  (make-up),  tata  lampu  (lighting),  tata panggung  (setdecoration),  tata musik  (composition).
Tentu saja seperti  lakon cerita  dalam  drama,  teater  kadang  kala  membutuhkan  penyutradaran (direction)  atau  dramaturgi.  Peristiwa  teater  dapat  bersifat  dramatis, mengharukan  dan  mengerikan  seperti  yang  dihantar  pada  awal  pemahaman tadi.  Namun  peristiwa  teater  tidak  selalu  terikat  lagi  dengan  situasi  dramatis demikian. Semua  jenis tontonan, baik yang sedih, gembira,  lucu, gila-gilaan, dan lain-lain dianggap bersifat teaterikal. 
Menurut  perkembangannya  secara  umum  sampai  sekarang  teater  mengalami berbagai  tahap  kasar  dalam  bentuknya  sebagai  tontonan.  Sampai  sekarang teater dapat dilihat bentuk-bentuknya yang semakin berkembang atau berubah dari  bentuk  awal. 
Bentuk-bentuk  drama atau teater  dapat  disampaikan  sebagai berikut.
a)  Teater sebagai  Upacara (primitif, agama, kenegaraan)
b)  Teater sebagai Permainan (meniru hewan-hewan  tertentu, petak umpet, “jembatan tapanuli”, alip-alipan, dan lain-lain)
c)  Teater  Sebagai  Tontonan  (opera,  pertunjukan  sendratari,  sepak  bola, garapan drama-modern)
d)  Teater  dalam  Peristiwa  (televisi,  sinetron,  filem,  dan  media  elektronik lainnya)
e)  Teater  dalam  Kenyataan  Sosial  (penipuan,  intrik  politik,  bencana,  dan lain-lain)             
Jenis atau bentuk drama, teater atau seni peran yakni:
  1. Tragedi : Kisah yang akhir ceritanya berujung dengan kesedihan.
  2. Komedi : Kisah yang penuh tawa dan kegembiraan.
  3. Tragikomedi : Gabungan antara tragedi dan komedi
  4. Melodrama : Kisah yang sepanjang cerita beurai air mata/sedih diiringidengan musik  yang menyayat.
  5. Farce : Kisah yang pementasannya memilih gerak yang tidak biasa bahkan berlebihan dan tidak wajar seperti bentuk-bentuk gerak karikatural.
  6. Parodi : Kisah yang berdasarkan fakta tapi diputarbalikan dg maksud agar menjadi bahan tertawaan.
  7. Satir : Kisah yang berisi cemoohan atau ejekan atau disajikan banyak kegetiran.
  8. Musikal : Kisah yang seluruh ceritanya diiringi oelh musik dan nyanyian.
  9. Opera : seluruh lakon dinyanyikan oleh para pemerannya lengkap dg orkestra.
Aliran dalam seni peran yakni:
  1. Klasik : Seni peran yang mengikuti aturan pemeranan yang ketat.
  2. Neoklasik  : Seni peran yang lebih berdasarkan adanya hubungan sebab akibat.
  3. Romantisme : Seni peran yang berkisah tentang manusia dan seluruh persoalannya sehingga manusia dapat menentukan nasib dan masa depannya sendiri.
  4. Realisme : Seni perang yang menyajikpan kehidupan sehari-hari dalam menghadapi kehidupan di dunia.
  5. Simbolisme : Seni peran yang banyak menyajikan simbol-simbol yang ditafsirkan kembali dari kenyataan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Ekspresionisme : Seni Peran yang menafsirkan ulang sebuah kenyataan atau realisme dengan penggalian karakter yang lebih detail.
  7. Epik : Seni Peran yang dikembalikan pada bentuk dan kekuatan teatrikalnya
  8. Absurd : Seni peran atau teater yang berupaya mencari terus menerus tentang kebenaran dan tidak ada kebenaran yang mutlak ditemuinya sehingga seolah-olah Manusia menjadi tuhan bagi dirinya sendiri.
3. Unsur-unsur Teater
Prasyarat  utama  itu merupakan  unsur-unsur  teknis  yang  harus  diperhatikan. Berikut adalah unsur-unsur teater secara umum.
a)  Seni Peran
Seni  peran  sebagai  unsur  utama  menjadi  citra  penting  untuk  menjaga keberlangsungan  sebuah  teater.  Teater  tanpa  seni  peran  menjadi mustahil kalau mau bicara dan beraktivitas melalui teater. Tentu saja seni peran itu dilakukan oleh para personil seperti pemain, aktor, atau aktris. Teori  seni peran bertujuan untuk kepentingan  lakon  yang diatur  secara dramatis  atau menarik. Pemain atau aktor dapat menggali seni peran itu melalui  berbagai  cara  di  luar  arahan  sutradara.  Seni  peran  dijiwai  dari suatu  pemikiran,  konsep,  bahan  peran  (seperti  cerita,  teks,  naskah), teknis, dan adaptasi ke tempat permainan. Teori seni peran juga memiliki macam-macam  aliran,  seperti  realisme,  karikaturis,  gaya  pantomim, absurd, dan lain-lain. Pemahaman atas aliran atau gaya itu sering menjadi bahan  pembicaraan  antara  pemain  atau  aktor/aktris  dengan  sutradara. Elemen  penyutradaraan  tidak  mungkin  mengabaikan  persoalan  aliran dalam teater.
b)  Seni Panggung
Seni panggung merupakan unsur penting kedua untuk sebuah peristiwa teater.  Seni  panggung  mencakup  tempat  pertunjukan  atau  pentas, dekorasi atau setting  panggung secara visual atau simbolik, kelengkapan artistik  seperti  lampu atau  cahaya. Selama peristiwa  teater berlangsung di  atas  panggung  kostum  dan  rias  secara  visual menjadi  bahagian  dari seni  panggung  itu  sendiri.  Kostum  dapat  terdiri  dari  pakaian  dan  alat yang  digunakan  pemain  selama  permainan.  Dalam  upacara  primitif kostum  sering  tidak  ditonjolkan.  Sebaliknya  dalam  upacara  agama, kostum  selalu  diperhatikan  secara  simbolik  sebagai  tanda  kebesaran. Dalam garapan teater sebagai tontonan kostum sering membedakan para pemain secara visual.  Itu sudah  terkondisi dan harus  terjadi. Bayangkan kalau dua kubu dalam permainan sepak bola dengan kostum yang serupa, pasti berabe!
 c)  Seni Gerak
Seni gerak memperkaya seni peran dalam  teater. Bahkan dapat menjadi satu  kesatuan,  seperti  yang  dilakukan  dalam  opera  dengan  musik  dan sastra.  Seni  gerak menyangkut  koreografi  atau  garapan  tari  yang  dapat mendukung dan menajamkan permainan secara artistik.
d)  Seni Musik
Seni  musik  di  dalam  teater  dapat  bersifat  fleksibel  dan  kadangkala dianggap  sebagai  pengiring  saja.  Namun  garapan  musik  dalam  teater tidak  boleh  dikatakan  terpisah  dan  dilakukan  semaunya  saja. Kalau  hal itu  terjadi,  ia  hanya  semakin  merusak  pertunjukan  teater  itu  sendiri. Pelaku musik  dalam  teater  harus mengerti  teater  itu  sendiri  dan  tidak harus ahli musik secara umum.
e)  Seni Sastra/Naskah
Di  tataran  kecil,  seni  sastra  dapat  menjajah  permainan  teater  karena ketergantungannya  kepada  naskah.  Namun  seni  sastra  tidak  mungkin dilepaskan  dari  teater  yang  menampilkan  seni  perannya  secara  verbal atau menggunakan dialog dalam bentuk kalimat atau susunan kata-kata. Seni  sastra  dalam  teater  seperti  partitur  dalam  konser  musik  klasik. Namun diwujudkan kembali melalui bentuk hafalan dan penghayatan  isi naskah. Dialog-dialog yang dilontarkan pemain atau aktor/aktris selama penampilan  mereka  bahannya  dapat  dihafal  dan  diambil  dari  naskah. Namun  ada  juga  dialog-dialog  yang  bersifat  spontan  atau  tanpa mengandalkan  naskah.  Penampilan  teater-teater  rakyat  seperti  Opera Batak,  Lenong,  Ketoprak,  dan  lain-lain  naskah  tidak  diperlukan  lagi karena para pemainnya dapat secara spontan menciptakan dialog di atas panggung.
f)  Non-Artistik atau Pengorganisasian Produksi Pertunjukan
Unsur–unsur  seni  dalam  teater  menjadi  kategori  yang  diperhatikan secara  intens  dalam  proses  membentuk  pertunjukan  teater.  Setelah proses menemukan bentuk pertunjukan  selesai, non-artistik merupakan kategori  pelengkap  untuk  membuat  suatu  pertunjukan  teater  berhasil. non-artistik menyangkut sistem produksi dan promosi untuk mengajak para penonton datang dan hadir melihat pertunjukan  teater. Tentu non-artistik memerlukan personil yang mengetahui sistem-sistem  itu, seperti personil  yang  dibutuhkan  dalam  penggarapan  unsur-unsur  seni  tadi dalam teater.
 4. Lakon dan Pemeranan
Yang dimaksud dengan  lakon adalah seni peran  itu sendiri. Seni peran (the art of  acting) merupakan  nyawa  dalam  teater.  Jerry  Grotowsky  (teaterawan  dari Polandia) melalui  konsep  Teater Miskin-nya  pernah membuat  adagium  teater tanpa naskah, tanpa sutradara, tanpa kostum, tanpa  lampu, tanpa dekorasi, dan tanpa  musik  masih  dapat  berlangsung;  namun  tanpa  penonton?  Setidaknya dibutuhkan  satu  orang  penonton.  Yang  sangat  tidak  mungkin  adalah  tanpa pemain  atau  pelaku  seni  peran  itu.  Jadi  lakon  dan  pemeranan  itu  menjadi sekaligus faktor utama dalam berteater.
Membangun  lakon dan pemeranan harus melihat  syarat-syarat  mendasar  dari  isi  yang  akan  dilakonkan  dan diperankan.  Syarat-syarat  tersebut  dikaitkan  dengan tubuh, suara, dan imajinasi pemerannya. Banyak  pendekatan  yang  dilakukan  untuk  membangun lakon  dan  pemeranan.  Namun mengikuti  Eka  D.  Sitorus (2002:iii)  ada  dua  pendekatan  seni  peran  atau  akting  dirumuskan, yakni: Pendekatan Akting Representasi yang dicontohkan melalui cara-cara yang dilakukan oleh Benoit Constant Coquelin (1843–1909) dan Sarah Bernhardt (1844–1924)  serta  Pendekatan  Akting  Presentasi    yang  dicontohkan  melalui cara-cara Konstantin S. Stanislavski  (1863-1938) dan Eleonora Duse  (1858-1924).
Pendekatan  Akting  Representasi  adalah  proses  di  mana  si  aktor  menentukan lebih  dahulu  tindakan-tindakan  yang  dilakukan  karakter  yang  dimainkannya. Secara  sengaja  dia  memperhatikan  bentuk  yang  diciptakan  sambil
melakukannya  di  atas  panggung. 
Sementara  Pendekatan  Akting  Presentasi adalah  pengutamaan  identifikasi  antara  jiwa  si  aktor  dengan  jiwa  si  karakter, sambil memberi  kesempatan kepada  tingkah  laku untuk berkembang. Tingkah laku  yang  berkembang  ini  berasal  dari  situasi-situasi  yang  diberikan  si  penulis naskah (idem, 22-29).
Kedua  pendekatan  itu  mungkin  bisa  divariasikan  dengan  cara  memperdalam keduanya  oleh  seorang  aktor  melalui  proses  latihan  dan  transformasi  yang dilakukan  dalam  penyutradaraan.  Saya  kira  para  sutradara  terkenal  seperti Brecht  (teater  realisme),  Grotowsky  (teater  miskin),  dan  Peter  Brook  (teater interkultural)  mengadopsi  dua  pendekatan  itu  untuk  kepentingan  sistem pelatihan lakon, perkembangan keaktoran, dan penyutradaran mereka lakukan.
5. Teknik Bermain Teater
Lepas  dari  sistem penyutradaraan  dan  sutradara  sistem  pelatihan  lakon  dapat dibangun  secara  teori  dan  praktik  melalui  sejumlah  teknik  dan  pendekatan tubuh pemain atau aktor/aktris. Pola umum dari  teknik  seni peran  terdiri dari tiga (3) pola, yaitu:
a)  Melontarkan contoh kalimat atau dialog, baru bergerak
b)  Bergerak duluan, baru mengucapkan kalimat atau dialog
c)  Simultan keduanya
Dalam memilih dan melaksanakan salah satu pola  itu teknik bergerak diwarnai oleh gerakan tubuh melalui perpindahan (movement), diam (static) dan sambil memainkan  alat  tertentu  dalam  lakon  yang  dimainkan  (business).  Pola  dan ketrampilan tubuh pemain atau aktor/aktris tentu saja harus dilengkapi dengan kekuatan  dan  kreativitas  tubuh.  Kekuatan  dan  kreativitas  tubuh  pemain  atau aktor/aktris  ditemukan  melalui  berbagai  latihan  tubuh  secara  internal  dan eksternal.  Tubuh  secara  internal  tentu  saja  dikaitkan  dengan  kesehatan  aktor secara  fisik  dan  psiko-kognitif.  Sedangkan  tubuh  secara  eksternal  adalah kemampuan beradaptasi di luar diri untuk kepentingan lakon.
Ada banyak cara untuk melatih tubuh secara  internal, yaitu dengan  latihan fisik seperti  olah  tubuh,  gymanstik,  suara,  pernafasan.  Sedangkan  latihan  psiko-kognitif dapat dilakukan melalui latihan konsentrasi, meditasi, yoga, membaca.  Ada banyak  teknik-teknik dan  contoh melakukan  latihan-latihan  tersebut  yang bisa  dilakukan  pemain  atau  aktor/aktris  sesuai  dengan  kemampuan  dan kecocokannya.
Namun  tentu  saja  dicocokkan  terhadap  kesiapan  kondisi  tubuh itu  sendiri dan kemauan bereksperimen atas  tubuh keaktoran. Seorang pelatih untuk  tubuh  secara  internal  tidak  selalu  seorang  sutradara,  karena  bagian sutradara  adalah  tubuh  secara  eksternal.  Pelatih  tubuh  secara  internal  bagi seorang  pemain  atau  aktor/aktris  adalah  diri  sendiri  setelah  menyerap kemungkinan-kemungkinan  dari  suatu  latihan  dan  pelatihan.  Lalu  kebiasaan berlatih akan menjadi pintu penemuan tradisi seorang pemain atau aktor/aktris dalam setiap memainkan lakon. Setelah itu dia dapat berlatih dan berlatih terus menerus  dalam  keliatan  tubuhnya  dan  kemurahan  untuk  berbagi  (sharing) kepada  penonton  dan  generasi  baru  yang  ingin  memanfaatkan  teater  dalam perkembangan kemanusiaan.
DASAR-DASAR SENI PERAN
OLAH TUBUH, VOKAL, SUKMA, PEMBUATAN NASKAH
1. Praktik  kesiapan  dan  ketahanan  organ-organ  pendukung  tubuh  sebagai media utama berteater dengan pemanasan atau stretching
2. Melatih pernafasan
3. Melatih vokal dan konsonan
4. Melatih teknik vokal dalam kaitan pola pernafasan
5. Latihan daya ucap (artikulasi)
6. Latihan suara artifisial
7.  Melatih imajinasi
8. Melatih gerak tubuh dengan gestur status, dinamis, pantomim, menari, maupun yoga
OLAH SUKMA
  1. Meditasi
  2. Manajemen Emosi : datar, naik, turun, campuran atau berkelok.
  3. Teknik Penggalian karakter tokoh/prep: Bentuknya (antagonis, protagonis, campuran, serius, karikatural, comedían dsb)
  4. Teknik memasuki peran karakter atau  tokoh: mimesis/meniru, metamorfosis/melahirkan kembali, campuran.
OLAH PERNAFASAN
Teknik pernafasan dada
Teknik pernafasan perut atau diafragma
OLAH VOKAL
  1. mengenal posisi huruf vokal dan konsonan
  2. teknik pengucapan vokal dan konsonan
  3. teknik mengeluarkan huruf bersambung
  4. teknik mengucapkan dialog perkalimat
OLAH PERAN
  1. mempelajari naskah/cerita
  2. Pengkarakteran
  3. Reading/membaca dengan karakter
  4. Olah gerak
  5. Olah dialog (intonasi, jeda, penggalan kata-kalimat, sahut-menyahut).
PEMBUATAN NASKAH
  1. Pencarian ide (membaca buku, melihat fenomena sosbudpolhukam, acara tv dll)
  2. Membuat cerita/naskah (berlatih kata bersambung, deskripsi latar, tokoh dll, tangga dramatik , pendahuluan, pengantar, konflik, klimaks, antiklimaks, suolusi, penutup, menyusun dialog, menyusun alur/plot.)
  3. Menyusun kerangka cerita/naskah. (awal cerita/pendahuluan, deskripsi latar, setting, lampu teknik muncul, deskripsi tokoh, sebab-akibat/calon/bibit konflik, konflik, kilmaks konflik, anti klimaks, solusi penutup)
  4. Penulisan naskah.
MANAJEMEN PEMENTASAN 
LATIHAN  LAKON CERITA
1. Memilah  cerita  yang  dianggap  lebih  sulit  atau  lebih  mudah  untuk dipentaskan
2. Menampilkan sosok tokoh yang diperankan secara terpisah
3. Mempertemukan sosok tokoh itu dalam situasi non-cerita dan cerita yang diperankan
LATIHAN PENGUASAAN PANGGUNG
  1. Teknik muncul
  2. Teknik Moving/bergerak
  3. Teknik blocking atau penemtapan posisi
  4. Teknik menggunakan aksesoris atau properti panggung
  5. Teknik mengenal setting/latar, audio/suara, ligthing/tata lampu
  6. Teknik penyelarasan musik dan gerak
  7. Adaptasi panggung
LATIHAN MENGENAL SETTING/LATAR, DAN TATA LAMPU
  1. Membuat sett
  2. Membuat property
  3. Membuat aksesoris
  4. Mengenal semua bahan
  5. Mengenal kegunaan dan fungsi
  6. Mengenal warna, bentuk, bahan tata letak
  7. Mengenal tata lampu
LATIHAN TATA RIAS DAN KOSTUM
  1. Mengenal bahan, bentuk, kegunaan dan fungsi kostum
  2. Mengenal teknik pembuatan dan pemakaian
  3. Mengenal bahan, jenis, kegunaan kosmetik
  4. Mengenal cara pemakaian kosmetik
  5. Mengenal bentuk tata rias karakter wajah dan tubuh
MANAJEMEN PRODUKSI PEMENTASAN TEATER
  1. Pencarian ide pementasan dan naskah
  2. Pembentukan tim produksi (Pimpinan produksi, sekretaris, bendahara, direktur artistik, produser, bagian-bagian atau seksi)
  3. Persiapan produksi
-          Pimpro (menyiapkan proposal, perijinan, kerjasama dll).
-          Direktur artistik (penyutradaraan, casting pemain, koordinator pemain, koordinator latihan, penata musik, latihan, runtrue, harmonisasi musik, tata lampu, setting, runtrue, gladi kotor, gladi bersih, pentas, evaluasi)
PEMENTASAN & EVALUASI  
  1. Persiapan (tempat, ijin, kerjasama, promosi, iklan, undangan, acara)
  2. Artisik (stage manajer, kostum, tata rias, pemain, setting, lampu, perlengkapan).
  3. Acara pendukung kalau ada
  4. Pementasan dan evaluasi

WAWASAN KEDRAMAAN



· Drama, Teater & Sandiwara :
Ø Drama diambil dari kata Draomai(Yunani) yang artinya bertindak atau berbuat (perbuatan). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM).
Ø Teater berasal dari kata Yunani, “theatron”(bahasa Inggris,Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan.
Ø Kata Sandiwara berasal dari bahasa jawa, “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta.
Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas pentas dan disaksikan oleh penonton. Namun, teater selalu dikaitkan dengan kata drama. “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.
Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain perang-perangan, dan lain sebagainya.
Teater merupakan institusi pendidikan alternatif (Ikranegara,1985), karena teater dapat mencerdaskan, membangkitkan pikiran kritis.
· Sejarah Singkat Teater
Asal Mula Teater
Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut;
- Berasal dari upacara agama primitif.
- Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya.
- Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita.
Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi.
· Unsur Pembentuk Teater
Unsur utama teater adalah naskah lakonsutradara, pemain, dan penonton. Tanpa keempat unsur tersebut pertunjukan teater tidak bisa diwujudkan. Untuk mendukung unsur pokok tersebut diperlukan unsur tata artistik yang memberikan keindahan dan mempertegas makna lakon yang dipentaskan.
1. Naskah Lakon
2. Sutradara
3. Pemain
4. Penonton, selanjutnya :
5. Tata Artistik
Didalam teater sendiri memiliki fungsi, baik dari segi penonton atau pelaku, yaitu;
- Rekreatif (hiburan)
- Kontemplasi (perenungan)
- Auflarung (pencerahan)
PERKEMBANGAN TEATER INDONESIA
# Teater Indonesia
ü Teater Tradisional
sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara
kehidupan masyarakat kita. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. Ada beberapa bentuk teater tradisional yang ada di daerah-daerah di Indonesia.
- Wayang
- Wayang Wong (wayang orang)
- Lenong
- Ketoprak
- Ludruk, dll.
# Teater Modern
Teater Transisi
Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieumendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti
budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.
ü Teater Indonesia tahun 1920-an
Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. Naskah-naskah
drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalahBebasari (artinya
kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926).
ü Teater Indonesia tahun 1940-an
Pada tanggal 6 oktober 1942, di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakankesenian Indonesia baru, di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Teater tidak hanya
sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan.
ü Teater Indonesia Tahun 1950-an
Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat, seperti karyakarya
Moliere, Gogol, dan Chekov. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian.
ü Teater Indonesia Tahun 1970-an
Jim lim mendirikan Studyclub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan, tari topeng Cirebon, longser, dan dagelan dengan teater Barat. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967, Ketika Rendra kembali ke Indonesia. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Pertunjukannya
misalnya, Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967,1968). Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin, gubernur DKI jakarta tahun1970, menjadi pemicu meningkatnya aktivitas, dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di kota besar seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Ujung Pandang, dan lain-lain.
ü Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an
Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari
1974. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Beberapa jenis festival di Yogyakarta, diantaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan
artistik.
ü Teater Kontemporer Indonesia
Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater, kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80- an sampai saat ini. Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Dengan demikian, wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak.

Sumber : Teater Ringin Chontong

KEAKTORAN



A.      ARTI DRAMA
  1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai" yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
  1. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
  1. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.
B.      ARTI TEATER
  1. Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  1. Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  1. Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.
C.      AKTING YANG BAIK
Akting tidak hanya berupa dialog saja, tetapi juga berupa gerak.
Dialog yang baik ialah dialog yang :
  1. terdengar (volume baik)
  1. jelas (artikulasi baik)
  1. dimengerti (lafal benar)
  1. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Gerak yang baik ialah gerak yang :
  1. terlihat (blocking baik)
  1. jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan)
  1. dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan)
  1. menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam naskah)
Penjelasan :
Þ    Volume suara yang baik ialah suara yang dapat terdengar sampai jauh
Þ    Artikulasi yang baik ialah pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang tindih.
Þ    Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai . Misalnya berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
Þ    Menghayati atau menjiwai berarti tekanan atau lagu ucapan harus dapat menimbulkan kesan yang sesuai dengan tuntutan peran dalam naskah
Þ    Blocking ialah penempatan pemain di panggung, diusahakan antara pemain yang satu dengan yang lainnya tidak saling menutupi sehingga penonton tidak dapat melihat pemain yang ditutupi. Pemain lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan, jika berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada didepan. Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada didepan.
Harus diatur pula balance para pemain di panggung. Jangan sampai seluruh pemain mengelompok di satu tempat. Dalam hal mengatur balance, komposisinya:
-          Bagian kanan lebih berat daripada kiri
-          Bagian depan lebih berat daripada belakang
-          Yang tinggi lebih berat daripada yang rendah
-          Yang lebar lebih berat daripada yang sempit
-          Yang terang lebih berat daripada yang gelap
-          Menghadap lebih berat daripada yang membelakangi
Komposisi diatur tidak hanya bertujuan untuk enak dilihat tetapi juga untuk mewarnai sesuai adegan yang berlangsung
Þ    Jelas, tidak ragu‑ragu, meyakinkan, mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan setengah‑setengah bahkan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu‑ragu terkesan kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting
Þ    Dimengerti, berarti apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke kiri, dsb.
Þ    Menghayati berarti gerak‑gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran dalam naskah, termasuk pula bentuk dan usia.
Selanjutnya akan dibahas secara rinci tentang dasar latihan teater.





BAB I
MEDITASI DAN KONSENTRASI
A.     MEDITASI
Secara umum meditasi artinya adalah menenangkan pikiran. Dalam teater dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.
  1. Tujuan Meditasi adalah sebagai berikut:
a.      Mengosongkan pikiran. Kita mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.
b.      Meditasi sebagai jembatan. Disini alam latihan kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.
  1. Cara meditasi adalah sebagai berikut :
a.      Posisi tubuh tidak terikat, dalam arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.
b.      Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk dan keluar dalam tubuh kita.
c.       Kosongkan pikiran kita, kemudian rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak. Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk berkonsentrasi.
Catatan :
Pada suatu saat mungkin kita kehilangan rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran yang hendak kita bawakan.
B.      KONSENTRASI
Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang kita kerjakan.
Cara konsentrasi adalah sebagai berikut :
  1. Kita harus melakukan dahulu meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.
  1. Setelah pikiran kita kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain bahwa kita saat ini sedang latihan teater.
Catatan :
Pada saat kita akan membawakan suatu peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.


BAB II
VOKAL
A.     PERNAPASAN
Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.
  1. Macam-macam pernapasan
a.      Pernapasan dada
Pada pernapasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.
Di kalangan orang‑orang teater pernapasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk Udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/acting kita, karena bahu menjadi kaku.
b.      Pernapasan perut
Dinamakan pernapasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,
Pernapasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
c.       Pernapasan lengkap
Pada pernapasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).
Pernapasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan acting, tetapi mengutamakan vokal.
d.      Pernapasan diafragma
Pernapasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hat ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir‑akhir ini, banyak orang‑orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.
  1. Latihan‑latihan pernapasan :
a.      Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
b.      Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
c.       Cara berikutnya adalah menarik napas dalam‑dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara‑cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vokal.
Catatan :
Bila sudah menentukan pernapasan apa yang akan kita pakai, maka janganlah beralih ke bentuk pernapasan yang lain.
B.      VOKAL
Untuk menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar vokal yang baik pula. "Baik” di sini diartikan sebagai :
Þ    Dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang).
Þ    Jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),
Þ    Tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan.
Þ    Tidak monoton.
Untuk mempunyai vokal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan‑latihan vokal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vokal, antara lain :
Þ    Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menghentakan suara "wah…” dengan energi suara. Lakukan ini berulang kali.
Þ    Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…”  (suara keluar lewat hidung).
Þ    Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."
Þ    Hirup udara banyak‑banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa…….”  sampai batas napas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.
Þ    Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik turun (dalam satu tarikan napas)
Þ    Keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus.
Þ    Keluarkan suara vokal “a‑i‑u‑e‑o", “ai‑ao‑au‑ae‑", "oa‑oi‑oe‑ou", “iao‑iau‑iae‑aie‑aio‑aiu‑oui‑oua‑uei‑uia‑......” dan sebagainya.
Þ    Berteriaklah sekuat‑kuatnya sampai ke tingkat histeris.
Þ    Bersuara, berbicara, berteriak sambil berjalan, jongkok, bergulung‑gulung, berlari, berputar‑putar dan berbagai variasi lainnnya.
Catatan :
Apabila suara kita menjadi serak karena latihan‑latihan tadi, janganlah takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan. Sebabnya adalah karena lendir‑lendir di tenggorokan terkikis, bila kita bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat, janganlah terlalu memaksa alat‑alat suara untuk bersuara keras, sebab apabila dipaksakan akan dapat merusak alat‑alat suara kita. Berlatihlah dalam batas-batas yang wajar.
Latihan ini biasanya dilakukan di alam terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara‑suara di sekitar kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.
C.      ARTIKULASI
Yang dimaksud dengan artikulasi pada teater adalah pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang diucapkan.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mengakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu :
Þ    Cacat artikulasi alam : cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Þ    Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog. Misalnya, Kehormatan menjadi kormatan.Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya. Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.
Þ    Artikulasi tak tentu : hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah‑olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.
Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan
Þ    Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.
Þ    Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb
Þ    Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk mulut.
D.     GESTIKULASI
Gestikulasi adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi, gestikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang berbeda.
Gestikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam dialog satu kata dengan satu kalimat kadang‑kadang memiliki arti yang sama. Misalnya kata "Pergi !!!!” dengan kalimat "Angkat kaki dari sini !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk "Lalu ?” , "Kenapa ?” atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.
Gestikulasi harus dilakukan sebab kata‑kata yang pertama dengan kata berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda. Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi" harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang berbeda.
Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan), “Pergi….”  (mendapat tekanan).
E.      INTONASI
Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan‑tekanan yang diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam, yaitu :
  1. Tekanan Dinamik (keras‑lemah)
Ucapkanlah dialog pada naskah dengan melakukan penekanan‑penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda.
-          SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)
-          Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)
-          Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)
  1. Tekanan.Nada (tinggi)
Cobalah mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah‑ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.
  1. Tekanan Tempo
Tekanan tempo adalah memperlambat atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca naskah dengan tempo yang berbeda‑beda. Lambat atau cepat silih berganti.
F.       WARNA SUARA
Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki‑laki dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya.
Jadi jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain harus memperhatikan artikulasi, gestikulasi dan intonasi, harus memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah‑rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis, anak kecil, dsb.
Selain mengenai dasar‑dasar vokal di atas, dalam sebuah dialog diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca naskah berikut ini dengan menggunakan dasar‑dasar vokal seperti di atas.
(Si Dul masuk tergopoh‑gopoh)
Dul             :
Aduh Pak….e…..e…..itu, Pak…. Anu…. Pak….a….a….ada orang bawa koper, pakaiannya bagus. Saya takut, Pak, mungkin dia orang kota, Pak.
Paiman      :
Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan orang-orangmu untuk mengusirnya ?
Pak Gondo :
(kepada Paiman) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Paiman).
Paiman      :
Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.
Pak Gondo :
(membentak sambil mendorong) Diam Kamu !  (kepada si Dul) Di mana dia sekarang ?
Dul             :
Di sana Pak, mengintip orang mandi di kali sambil motret.



BAB III
GERAK DALAM TEATER
A.     OLAH TUBUH
Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak, maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan, mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal.
Selain itu olah tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot‑otot kita supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian‑bagian tubuh kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.
  1. Pelaksanaan olah tubuh
a.      Pertama sekali mari kita perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yana kita punyai, tentang segala rakhmat yang dianugerahkan kepada kita. Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang mana semuanya itu merupakan rakhmat Tuhan yarig diberikan kepada kita.
b.      Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.
-          Jatuhkan kepala ke depan. Kemudian jatuhkan ke belakanq, ke kiri, ke kanan. Ingat kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.
-          Putar kepala pelan‑pelan dan rasakan lekukan‑lekukan di leher, mulai dari muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan lakukan berkali‑kali. Ingat, pelan‑pelan dan rasakan !
-          Putar bahu ke arah depan berkali‑kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.
-          Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang. Demikian pula sebaliknya.
-          Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali‑kali, pertama tangan kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama‑sama.
-          Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.
-          Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan. Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.
-          Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari‑lari di tempat dan meloncat‑loncat.
  1. Macam-macam gerak
Setiap orang memerlukan gerak dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam‑macam gerak Latihan‑latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.
Pada dasarnya gerak dapat dibaqi menjadi dua, yaitu
a.      Gerak teaterikal
Gerak teaterikal adalah gerak yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.
b.      Gerak non teaterikal
Gerak non teaterikal adalah gerak kita dalam kehidupan sehari‑hari. Gerak yang dipakai dalam teater (gerak teaterikal) ada bermacam‑macam, secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.
1)      Gerak Halus
Gerak halus adalah gerak pada raut muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya marah, sedih, gembira, dsb.
2)      Gerak Kasar
Gerak kasar adalah gerak dari seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
a)      Business, adalah gerak‑gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya :
-          sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak‑gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.
-          sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa kehilangan konsentrasi kita pada belajar.
b)      Gestures, adalah gerak‑gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok, dsb.
c)      Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung‑gulung, melompat, dsb.
d)      Guide, adalah cara berjalan. Cara berjalan disini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk, dsb.
  1. Latihan gerak
Setiap gerakan yang kita lakukan harus mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu.
Dalam latihan gerak, kita mengenal latihan “gerak-gerak dasar”. Latihan mengenai gerak-gerak dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a.      Gerak dasar bawah : posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas kepala kita.
b.      Gerak dasar tengah : posisi kita saat ini dalam keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari bawah sampai diatas kepala.
c.       Gerak dasar atas    : di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.
Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk berimprovisasi/ menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.
  1. Latihan-latihan gerak yang lain :
a.      Latihan cermin.
Dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan ini dilakukan bergantian.
b.      Latihan gerak dan tatap mata.
Sama dengan latihan cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap, seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan nanti.
c.       Latihan melenturkan tubuh.
Seseorang berdiri dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.
d.      Latihan gerak bersama.
Suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.
e.      Latihan gerak mengalir.
Suatu kelompok yang terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran. Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan  (menggerakkan tangan atau tubuh) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang artistik.
B.      GERAK DAN VOKAL
Setelah kita berlatih tentang vokal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita mencoba untuk memadukan antara vokal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan sebagainya.
Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting. Tujuannya adalah agar vokal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vokal.
 

  


BAB IV
PENGGUNAAN PANCA INDERA DALAM TEATER
A.      PANCA INDRA
Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat memainkan suatu peran dengan baik pula.
Supaya alat-alat indera kita dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi. Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain :
  1. Mata
Duduk bersila sambil menatap suatu titik di dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.
  1. Telinga
Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali ketukan pada benda yang sudah ditentukan.
Duduklah ditepi jalan yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bus, sepeda motor, suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas trotoar,dsb.
  
  1. Hidung
Duduk ditepi jalan sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita, bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram hujan, dsb.
Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan hayati benar-benar bagaimana baunya.
  1. Kulit
Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu, cari perbedaan antara setiap tubuh.
Rabalah dinding, lantai, meja, atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya. Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.
  1. Lidah
Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi, langit-langit, bibir, dsb.
Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan, batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.





BAB V
KARAKTERISASI
A.      DEFINISI KARAKTER
Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.
Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis. Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.
Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya, tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut). Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)
Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut :
Þ      Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis, kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan gerak-gerak dasar disini adalah ciri-ciri khas)
Þ      Dua orang atau lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik pengiring.
Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya perlu  juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk itu marilah kita kenali satu persatu.
  1. OBSERVASI
Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya, pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu. Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi tokoh yang kita ingini.
  1. ILUSI
Ilusi adalah bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan, ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dsb.
Cara-cara melatihnya antara lain :
-          Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.
-          Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.
-          Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.
-          Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.
-          Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.
  1. IMAJINASI
Imajinasi adalah suatu cara untuk menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas, penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita sedang memainkan sebuah pantomim.
Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah dialog, sebagai berikut : “ Hei letnan, coba perhatikan perempuan berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan”. Yang dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak tampak dalam pentas.
Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut :
-          Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.
-          Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian bayangkan dan sebutkan bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya, keadaannya, warna, dsb.
-          Menganggap atau memperlakukan sebuah benda lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb. Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa terpingkal-pingkal.
-          Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.
  1. EMOSI
Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung, gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh yang diperankan  dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi), pengucapan dialog, pernapasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.
  1. PENGHAYATAN
Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.
Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah :
-          Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik tolak dan inti dari naskah.
-          Melakukan gerak serta dialog yang terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang akting dari tokoh yang akan kita perankan.
-          Sebagai latihan cobalah membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.

    


BAB VI
BLOCKING
A.     DEFINISI BLOCKING
Yang dimaksud dengan blocking adalah kedudukan tubuh pada saat diatas pentas. Dalam permainan drama, blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking. Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.
Þ    Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.
Þ    Utuh
Utuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.
Þ    Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.
Þ    Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton  untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.
Þ    Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.
Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip blockingAda juga naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para pemainnya.


B.      KOMPOSISI PENTAS
Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu blocking, dimana setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri. Berikut ini adalah skema komposisi pentas.  
7
8
9
4
5
6
1
2
3

C.      PENONTON
Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan nomornya. Bagian depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah tempat-tempat yang sesuai agar blocking kelihatan seimbang. Walaupun demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu dibuat-buat.




BAB VII
NASKAH
Setelah kita mengenal berbagai macam dasar yang diperlukan untuk bermain drama, akhirnya sampailah kita pada naskah. Naskah disini diartikan sebagai bentuk tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan berkali-kali, dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak akan berubah mutunya. Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang dipentaskan berdasarkan naskah yang sama dapat berbeda mutunya. Hal ini tergantung pada penggarapan dan situasi, kondisi, serta tempat dimana dimainkan naskah tersebut.
Sebuah naskah yang baik harus memiliki tema, pemain/lakon dan plot atau rangka cerita.
  1. Tema
Tema adalah rumusan inti sari cerita yang dipergunakan dalam menentukan arah dan tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.
  1. Lakon
Dalam cerita drama lakon merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang lakon. Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu :
a.      Dimensi fisiologi    ; ciri-ciri badani, seperti : usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.
b.      Dimensi sosiologi   ; latar belakang kemasyarakatan seperti: status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.
c.       Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaan seperti: temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll. 
Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka lakon yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati.
  1. Plot
Plot adalah alur atau kerangka cerita. Plot adalah suatu keseluruhan peristiwa didalam naskah. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
a.      Pemaparan (eksposisi)
Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita.
b.      Dialog
Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama para lakon harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.
c.       Komplikasi awal atau konflik awal
Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik merupakan kekuatan penggerak drama.
d.      Klimaks dan krisis
Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.
e.      Penyelesaian (denouement)
Drama terdiri dari sekian adegan, dimana didalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian.

Sumber:  UKM Teater Mimpi Institut Sains Terapan dan Teknologi Surabaya (iSTTS)